Angka Hot Spot Sintang Lebih Banyak Di Sebabkan Aktivitas Masyarakat Berladang

oleh

Sintang,SP. Data BMKG Kalbar  yang di rilis di sejumlah media pada 17 Juli lalu tentang tingginya titik hotspot (titik api) di Sintang  yang mencapai 30 titik langsung mendapatkan respon cepat dari pemerintah daerah Sintang. Menurut bupati Sintang dr.Jarot Winarno, berdasarkan hasil pengecekan yang dilakukan oleh Dandim Sintang sebagai insiden komander kebakaran hutan Sintang  yang langsung melakukan pengecekan ke wilayah Ketungau Hulu jumlah titik hotspot telah mengalami penurunan. Data menujukan angka hotspot di Sintang pada tanggal 18 Julli 2018 tinggal 19 titik saja, 12 titik api di antaranya ada di wilayah kecamatan Ketungau Hulu.

“Sudah langsung di lakukan pengecekan ke lapangan oleh Dandim beserta jajaranya dan laporan yang sampai ke kami bahwa dari 19 titik api tersebut hanya 7 yang dianggap mempunyai keyakinan tinggi dapat menyebabkan kebakaran hutan sedangkan 12 diantaranya dinyatakan rendah menjadi penyebab kebakaran hutan. Selain itu, dandim juga telah menginfokan bahwa dari 12 titik api di wilayah Ketungau itu, semuanya merupakan titik api yang terjadi karena aktivitas masyarakat karena pembukaan ladang,”bebernya.

Menurut bupati Sintang, informasi yang diterimanya pada Kamis (19/7) jumlah titik hotspot sintang telah mengalami penurunan. Angka tertinggi titik hotspot justru ada di kabupaten Kapuas Hulu. Menurutnya dari hasil pengolahan data LAPAN yang di terekam oleh satelit pada tanggal 18 Juli 2018 pukul 07.00 – 17.00 jumlah titik hotspot di Sintang hanya 19 titik saja, sementara di kabupaten Kapuas Hulu mencapai 28 titik.

Lebih lanjut Jarot Winarno mengatakan bahwa pantauan satelit hanya merekan titik api saja. Maka harus di lakukan pengecekan ke lapangan, apa yang menjadi sumber titik api tersebut. Pengecekan ke lapangan akan langsung dilakukan pada titik koordinat yang memang telah terekam dalam data satelit.

“Jadi anganya itu bisa naik dan bisa juga turun. Kemarin pagi titik api di sintang turun, hanya tinggal 3 saja. Tapi bisa jadi hari ini naik lagi. Titik api di wilayah Ketungau Hulu bisa jadi sudah padam, tapi bisa jadi juga terjadi peningkatan titik api di kecamatan lain.

Tindakan pengecekan ke lapangan yang di lakukan oleh aparat bertujuan untuk memastikan penyebab titik api. Apakah karena aktivitas warga, misalnya membuka lahan atau karena aktvitas perkebunan. Kemudian aparat juga menghimbau agar masyarakat tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan. Aparat juga menghimbau, jikapun terpaksa membuka lahan dengan membakar lahan, maka harus di buat skat api atau dilakukan secara gotong royong. “Tujuannya itu tadi, untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kebakaran hutan,”tegasnya.

Bejo, Danramil 19 yang meliputi kecamatan Kelam Permai dan Binjai Hulu membenarkan bahwa pihaknya selalu menyampaikan kepada warga agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka lahan atau ladang. Dalam kesempatan melakukan perjalanan bersama Danramil Bejo di ke wilayah kecamatan Binjai Hulu, Danramil secara sengaja menemui sejumlah tokoh masyarakat di wilayah desa Simba Raya dan Binjai Hulu untuk menyampaikan himbaun tersebut.

“Setiap hari kalau keliling di wilayah tugas, selalu saya sampaikan masalah kamtibmas dan tentang waspada kebakaran hutan dengan tidak membakar saat membuka ladang.”tegasnya. (end)