Pengobatan Gratis Program DTPK Sintang 2019, Warga Perbatasan Senang Dapat Perhatian Pemerintah

oleh
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh saat memeriksa salah satu pasien berobat gratis DTPK 2019.

Layanan kesehatan sudah sepatutnya didapatkan seluruh masyarakat Indonesia. Terutama bagi warga miskin yang tinggal di pedalaman dan terpencil, bahkan hingga perbatasan.

Senin (23/9) sekira pukul 19.00 WIB, ratusan warga Desa Nanga Bayan, Kecamatan Ketungau Hulu tampak memadati kantor desa setempat. Mereka menunggu antrian namanya dipanggil untuk mendapatkan pengobatan gratis.

Terlihat dari kejauhan, setapak demi setapak langkah kaki lelaki paruh baya berjalan menuju ke kantor desa itu dengan ditopang sebuah tongkat kayu seadanya.

Adalah Pak Saloh, kedatangan pria berusia 56 tahun itu juga untuk mendapatkan pengobatan gratis yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sintang dengan program Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan (DTPK) 2019.

Tim DTPK 2019 berfoto bersama usai melaksanakan pengobatan gratis di Desa Nanga Bayan.

Tampak sekali, dengan tertatih-tatih, Pak Saloh berjalan. Sebuah senter melekat di atas kepalanya. Senter tersebut digunakannya untuk menuju ke kantor desa dari rumahnya, karena belum ada penerangan lampu dari PLN di desa tersebut.

Perjalanan Pak Saloh dari rumahnya ke kantor desa lumayan menguras tenaganya, karena memakan waktu sekitar 10 menit, apalagi dengan kondisi kakinya yang sedang sakit tersebut.

“Kaki saya ini sakit uratnya dan lutut juga. Kalau salah injak bisa terjatuh saya,” ujar Pak Saloh dengan nada lelah saat dihampiri media ini yang sedang duduk di kursi yang disediakan panitia.

Namun kedatangan Pak Saloh pada malam itu, seakan belum beruntung, karena dirinya tak membawa KTP untuk mendaftar, ditambah lagi dengan antrian yang cukup panjang.

“KTP tinggal di pondok ladang saya. Jaraknya juga jauh dari sini, sekitar 3km. Lagipula saya datang ke sini tadi juga sudah ramai yang mengantri, saya datang kemalaman juga,” kata Pak Saloh.

Namun hal itu, bukanlah menjadi sebuah kendala untuk bapak dari 9 anak ini mendapatkan pengobatan gratis tersebut. Mengingat, besok harinya, Selasa (24/9) pagi, pengobatan gratis tersebut dilanjutkan lagi ditempat yang sama.

“Besok saya akan datang pagi-pagi ke sini, tapi sebelumnya saya suruh dulu anak saya mengambilkan KTP saya, agar saya dapat pengobatan gratis ini,” terangnya.

Keesokan harinya pun, Pak Saloh mendapatkan pengobatan gratis tersebut, ia pun merasa senang, bisa meninkmati program dari pemerintah yang mencapai ke daerah perbatasan Indonesia-Malaysia itu.

Pria yang kesehariannya mengurus kebun dan berladang ini pun lanjut bercerita, bahwa penyakitnya tersebut dideritanya sejak 6 tahun yang lalu. Sudah sering berobat ke sana-ke sini, namum belum juga sembuh, meski diakuinya sedikit ada perubahan.

Petugas kesehatan saat melakukan pemeriksaan kepada pasien berobat gratis.

“Sering sekali saya terjatuh kalau sedang berjalan karena sakit kaki ini. Mudahan dengan pengobatan gratis ini, dapat mengobati penyakit yang sudah bertahun-tahun saya alami,” harapnya.

Ia juga mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada pemerintah daerah, khususnya untuk Dinkes yang hadir di tengah-tengah masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan gratis.

“Tentu ini yang kita selalu harapkan. Saya sangat senang sekali dengan adanya ini. Karena kita di sini jauh di pedalaman, kalau mau berobat tentu juga akan sangat mahal, sedangkan penghasilan kita di sini tidaklah seberapa. Mudahan kegiatan seperti ini dapat rutin dilakukan,” pungkas pria kelahiran 1963 silam ini.

Senada juga dikatakan Bapak Musa, warga Desa Idai, Kecamatan Ketungau Hulu yang menjadi lokasi kedua kegiatan ini berlangsung. Dirinya mengaku sangat senang bisa mendapatkan pengobatan gratis dari pemerintah.

“Saya sangat senang sekali bisa mendapatkan pengobatan gratis ini. terimakasih buat pemerintah, khsusnya Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang,” ujar pria kelahiran 1956 ini.

Bapak Musa sendiri mengalami luka sobek di kakinya akibat pecahan drum yang sudah karatan. Luka tersebut sudah dialaminya sejak beberapa hari sebelum adanya pengobatan gratis ini.

pasien berobat gratis DTPK 2019 saat diperiksa.

Kondisi luka tersebut pun sudah mulai terlihat parah, bahkan mengeluarkan nanah. Akibatnya, Bapak Musa sulit untuk berjalan, bahkan ia mengalami sakit demam.

“Ceritanya saya mau cari ikan kecil-kecil di sungai untuk konsumsi sehari-hari. Namun saat masuk ke sungai, saya terkena pecahan drum itu. Akhirnya kaki saya sobek cukup dalam,” terangnya.

Sebelumnya, Bapak Musa tidak membawa penyakitnya tersebut untuk berobat, dikarenakan ia berpikiran bahwa akan mengeluarkan biaya yang cukup menguras isi dompetnya, sedangkan penghasilannya sehari-hari tidaklah seberapa.

salah satu pasien saat dicabut giginya oleh dokter pada program pengobatan gratis DTPK 2019.

“Saya mikir biaya mahal. Makanya saya tunggu ada bantuan ini saja. Saya ke sini saja tidak bisa pakai jalan, diantar pakai motor.,” terang bapak dari 5 anak ini.

Ia pun berharap, berbagai program dri pemerintah sering masuk ke daerah perbatasan, agar masyarakat yang tinggal di daerah terpencil merasakan adanya perhatian pemerintah.

Sebagaimana diketahui, bahwa Nanga Bayan ini merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan negara tentangga Malaysia. Untuk mencapai ke lokasi tersebut dari Kota Sintang harus menempuh jarak hampir 210km.

Tak hanya itu, jalan yang dilalui juga tidaklah mudah. Dimana hampir 80 persen jalan yang dilalui masih berkontur tanah, sehingga untuk mencapai desa tersebut dari Kota Sintang memakan waktu sekitar 8 jam perjalanan. (*)